Kamis, 23 Maret 2017

Flora dan Fauna Khas Provinsi Banten

Flora dan Fauna Khas Provinsi Banten

Flora dan fauna khas provinsi Banten ini adalah seri tulisan tentang flora identitas provinsi dan fauna identitas provinsi se-Indonesia. Kali ini, alamendah.org mengangkat tumbuhan dan hewan yang dijadikan fauna dan flora identitas yang selain khas juga menjadi maskot bagi provinsi Banten.
Sebagai flora atau tumbuhan identitas, provinsi Banten memilih Kokoleceran. Kokoleceran adalah salah satu tumbuhan endemik dari famili Dipterocarpaceae yang memiliki nama latin Vatica bantamensis. Sedangkan untuk fauna identitas atau hewan khas, Banten menetapkan Badak Jawa, hewan langka yang kini hanya mendiami Taman Nasional Ujung Kulon.

Kokoleceran Flora Khas Provinsi Banten

Wajar jika kemudian Kokoleceran ditetapkan sebagai maskot provinsi Banten. Pertama, Pohon Kokoleceran (Vatica bantamensis) adalah tanaman endemik yang hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Kedua, Kokoleceran merupakan salah satu tumbuhan langka Indonesia dengan status konservasi dalam Daftar Merah IUCN, Endangered (Terancam Punah).
Tidak banyak yang bisa digali dari tanaman khas Banten ini. Anggota famili Dipterocarpaceae mampu tumbuh hingga setinggi 30 meter. Bagian batang yang masih muda ditumbuhi bulu-bulu halus yang lebat. Tipe daunnya menjorong atau melanset. Tipe bunganya malai yang muncul pada ujung daun atau ketiak daun. Bunga kokoleceran panjangnya mencapai 7 cm. Buahnya bulat dan memiliki tangkai yang pendek sekitar 5 mm panjangnya. Pada buahnya terdapat biji yang berdiameter mencapai 1 cm.
Selengkapnya mengenai tumbuhan khas ini, baca : Kokoleceran Flora Misterius dari Ujung Kulon.
Klasifikasi Ilmiah Kokoleceran: Kerajaan: Plantae. Filum: Tracheophyta. Kelas: Magnoliopsida. Ordo: Malvales. Famili: Dipterocarpaceae. Genus: Vatica. Species: Vatica bantamensis (Hassk.) Benth. & Hook.ex Miq.

Badak Jawa Fauna Khas Provinsi Banten

Badak jawa
Badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon yang tertangkap kamera trap (gambar: kompas)
Badak Jawa
Badak Jawa. Gambar : wwf Indonesia
Satwa yang ditetapkan sebagai maskot Banten tidak kalah langkanya. Adalah Badak Jawa, hewan yang hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon ini jumlah populasinya tinggal 58 ekor. Sehingga menjadi salah satu hewan paling langka di Indonesia. Dalam daftar merah IUCN pun, fauna khas Banten ini menyandang status keterancaman tertinggi, Critically Endangered (Kritis).
Nama latin hewan ini adalah Rhinoceros sondaicus Desmarest. Tubuhnya sepanjang 2-4 meter dengan tinggi sekitar 1,7 meter dan berat antara 900 – 2300 kg. Memiliki satu cula dengan panjang sekitar 25 cm. Kulitnya berwarna abu-abu kehitaman yang memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja. Badak Jawa menjadi satu diantara dua spesies badak yang hidup di Indonesia, di samping Badak Sumatera. Di dunia terdapat lima spesies badak, yaitu Badak Jawa, Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Badak India (Rhinoceros unicornis), Badak Hitam (Diceros bicornis), dan (Ceratotherium simum).

Flora dan fauna khas provinsi Jakarta

Flora dan fauna khas provinsi Jakarta ini adalah flora identitas provinsi dan fauna identitas provinsi se-Indonesia. Kali ini mengangkat tumbuhan dan hewan yang dijadikan fauna dan flora identitas yang selain khas juga menjadi maskot bagi provinsi DKI Jakarta. Sebagai flora atau tumbuhan identitas, provinsi DKI Jakarta memilih Salak Condet (Salacca edulis cognita) dan Elang Bondol (Haliastur indus) sebagai Flora dan Fauna Identitas Provinsi DKI Jakarta.




Salak Condet Flora Identitas Jakarta


Salak Condet atau Salacca Edulis Cognita  adalah salah satu jenis buah yang sangat terkenal dari Jakarta. Salak condet sendiri memiliki nama belakang Condet karena banyak tumbuh dan tersebar di daerah Condet. Tepatnya di sekitar Kelurahan Balekambang, kelurahan Batu Ampar dan Kelurahan Gedong, Jakarta Timur. Faktanya, hingga saat ini Salak Condet masih digunakan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai lambang resmi daerah bersama dengan Elang Bondol yang terlihat sedang mencengkram Salak Condet pada lambang tersebut. Salak yang juga terlihat pada Brand Logo transjakarta ini kondisinya sangat memprihatinkan dan terancam mengalami kepunahan. Tidak jelas berapa sisa dari salak Condet tersebut. Data empiris memperlihatkan bahwa di tiga kelurahan tersebut sudah bukan lagi menjadi lahan yang memadai bagi tumbuhan termasuk bagi Salak Condet. Tata kelola lahan yang tidak seimbang antara lahan tutupan dengan lahan produktif bagi tanaman menjadi akar permasalahannya. Sebagian besar lahan di wilayah Kelurahan Balekambang, Kelurahan Batu Ampar dan Kelurahan Gedong telah dimanfaatkan sebagai lahan perumahan penduduk.
Elang Bondol Fauna Identitas Jakarta
Elang Bondol merupakan salah satu jenis elang yang dapat dijumpai di Indonesia. Elang Bondol kadang disebut juga sebagai Lang Lang Merah atau Elang Tembikar. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Brahminy Kite atau Red-backed Sea-eagle. Sedangkan nama ilmiah hewan ini adalah (Haliastur indus )yang bersinonim dengan Falco indus.
Elang Bondol sebagai maskot kota Jakarta, pastinya sudah diketahui oleh semua warga kota Jakarta. Bahkan bus transjakarta pun turut menggunakan gambar burung Elang Bondol (dengan mencengkeram Salak Condet) sebagai logo yang terpasang di setiap bisnya. Namun bagi yang memperhatikan pastinya juga akan mafhum jika semakin hari, Sang Maskot Kota Jakarta, Elang Bondol, semakin sulit dijumpai dan langka. Sama halnya dengan Salak Condet (Salacca Edulis Cognita) yang menjadi Flora Identitas Jakarta, Fauna Identitas ini juga hampir mengalami kepunahan.
Daerah Persebaran dan Habitat. 
Di Indonesia, burung yang menjadi maskot kota Jakarta ini dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua. Habitat utama burung Elang bondol adalah daerah pesisir pantai, hutan mangrove, rawa-rawa, dan danau di daerah dataran rendah hingga ketinggian 3000 meter dpl. Di Jakarta sendiri Elang Bondol dapat ditemui di gugusan Kepulauan Seribu yang merupakan wilayah Kabupaten Administratif dari Jakarta

Flora dan Fauna Khas Lampung

GIIIPPPPPPPPPPPP
Flora dan fauna khas provinsi Lampung adalah sepasang tumbuhan dan hewan yang oleh Pemerintah Provinsi Lampung ditetapkan sebagai flora dan fauna identitas provinsi tersebut. Masing-masing provinsi di Indonesia memang memiliki tumbuhan dan hewan khas tersendiri sebagai maskot dan identitasnya. Demikian juga dengan provinsi Lampung. Adapun bagi Provinsi Lampung, tumbuhan dan hewan khas yang dipilih dan ditetapkan sebagai maskot dan identitas adalah Bunga Ashar (Mirabilis jalapa L) dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)Bunga Ashar (Mirabilis jalapa L) ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Bengkulu, sedangkan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranussebagai fauna identitasnya.



Flora Khas Lampung
Bunga ashar dikenal juga sebagai kembang pukul empat atau Four o’clock plant yang dalam bahasa latin disebut Mirabilis jalapa L. Meskipun bunga ashar atau kembang pukul empat bukan bunga asli Indonesia melainkan berasal dari Meksiko, namun bunga ashar ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Lampung. Dinamakan bunga ashar atau asar dan kembang pukul empat lantaran kebiasaan bunga ini yang mekar pada sore hari sekitar pukul empat sehingga pada jaman dulu masyarakat Lampung menggunakannya sebagai pertanda masuknya waktu sholat Ashar. Karena itu bunga ashar atau kembang pukul empat sering ditanam di pekarang atau di depan surau.
Tumbuhan hias ini sering disebut juga sebagai kederat, segerat, tegerat (Jawa), noja (Bali), pukul ampa (Minahasa), bunga tete apa, bunga-bunga parangghi (Makasar), bunga-bunga parengki (Bugis), lore laka (Timor), kupa oras (Ambon), Cako rana (Ternate), kembang asar (Lampung), kembang pagi sore, kempang pukul empat, bunga waktu kecil (Melayu).
Fauna Khas Lampung



Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satu dari tiga subspesies Gajah Asia. Subspesies Gajah Asia (Elephas maximus) selain Gajah Sumatera adalah Gajah Asia (Elephas maximus maximus) yang terdapat di Srilangka dan Gajah India (Elephas maximus indicus) yang terdapat di Asia Tenggara dan India. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang mempunyai nafsu makan besar (hingga 150 kg seharinya) bisa dijumpai di pulau Sumatera Indonesia. Binatang ini juga ditetapkan sebagai Fauna Identitas Provinsi Lampung.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) hanya berhabitat di pulau Sumatera Indonesia. Populasinya tersebar di tujuh provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Meskipun sebaran habitatnya luas ternyata populasinya menurun drastis. Karenanya UICN Redlistmenggolongkan binatang besar ini dalam kategori Endangered sejak tahun 1996.

Flora dan Fauna Khas Bangka Belitung

Flora dan Fauna Khas Bangka Belitung

Flora dan fauna khas provinsi Bangka Belitung adalah sepasang tumbuhan dan hewan khas yang ditetapkan sebagai maskot Bangka dan Belitung. Pemilihan sebagai flora dan fauna khas tentunya didasarkan pada berbagai pertimbangan. Tumbuhan dan hewan khas ini lebih jamak disebut sebagai Flora dan Fauna Identitas Provinsi.
Layaknya provinsi-provinsi lainnya di seluruh Indonesia, Bangka Belitung pun memiliki sepasang tumbuhan dan hewan yang ditetapkan sebagai Flora dan Fauna Identitas Provinsi Bangka Belitung. Adapun Flora dan Fauna Identitas atau tumbuhan dan binatang khas provinsi ini adalah Nagasari (Palaquium rostratum) dan Mentilin (Tarsius bancanus).

Nagasari, Flora Khas Bangka Belitung

Pohon Nagasari
Pohon Nagasari
Nagasari (Palaquium rostratum) adalah tumbuhan asli Bangka Belitung, meskipun bukan flora endemik. Tersebar secara alami di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, dan Maluku (Indonesia), Thailand, dan Malaysia. Nagasari kerap disebut juga sebagai Nyatuh Pucung atau Nyatoh Pisang. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai Gutta percha. Nama latin tumbuhan ini adalah Palaquium rostratum (Miq.) Burck.
Tumbuhan Nagasari berukuran besar dengan ketinggian hingga 30 meter dengan diameter batang mencapai 120 cm. Pohon dari keluarga sowa-sawoan (Sapotaceae) ini dimanfaatkan kayunya sebagai perabot di dalam rumah, lantai, mebel, dan pembuatan perahu. Selain itu juga dikenal sebagai salah satu kayu bertuah. Beberapa pihak meyakini bermanfaat untuk keselamatan, kewibawaan, pengobatan, perlindungan terhadap orang dan jin jahat, binatang berbisa, hingga anti tenung.
Tidak mengherankan jika provinsi Bangka Belitung kemudian memilih Nagasari (Palaquium rostratum) sebagai tumbuhan khas mereka. Selengkapnya mengenai pohon ini baca artikel : Nagasari Pohon Anti Tenung.
Klasifikasi Ilmiah Nagasari: Kerajaan: Plantae. Filum: Tracheophyta. Kelas: Magnoliopsida. Ordo: Ericales. Famili: Sapotaceae. Genus: Palaquium. Spesies: Palaquium rostratum (Miq.) Burck.

Mentilin, Fauna Khas Bangka Belitung

Tarsius bancanus atau Mentilin
Tarsius bancanus atau Mentilin
Mentilin merupakan salah satu jenis tarsius di Indonesia. Nama latin binatang ini adalah Tarsius bancanus Horsfield, 1821 yang bersinonim dengan Tarsius natunensis Chasen, 1940. Dalam bahasa Inggris di kenal sebagai Horsfield’s Tarsier, Western Tarsier, atau Horsfield’s Tarsier. Sedangkan di Indonesia selain disebut sebagai Mentilin juga kerap dinamai sebagai Tarsius Bangka.
Binatang primata kecil ini terdiri atas empat subspesies. Keempatnya adalah Tarsius bancanus saltator (endemik pulau Belitung), Tarsius bancanus natunensis (Kep. Natuna), Tarsius bancanus borneanus (Kalimantan -Indonesia, Brunei, dan Malaysia), dan Tarsius bancanus bancanus (Sumatera dan Bangka).
Berukuran mungil, panjang tubuhnya berkisar antara 12-15 cm dengan berat tubuh sekitar 128 gram. Layaknya jenis tarsius lainnya, Mentilin atau Tarsius Bangka merupakan hewan nokturnal.
Mentilin atau Tarsius Bangka ini lah yang kemudian ditetapkan sebagai Fauna Identitas atau hewan khas Provinsi Bangka Belitung. Selengkapnya tetang maskot ini baca artikel : Mentilin (Tarsius bancanus).
Klasifikasi Ilmiah Mentilin: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Mammalia. Ordo: Primata. Famili: Tarsiidae. Genus: Tarsius. Spesies: Tarsius bancanus Horsfield, 1821

Flora dan Fauna Nusa Tenggara Timur

GIIIPPPPPPPPPPPP

Flora dan Fauna Khas Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah Cendana, atau cendana wangi (Santalum album) sebagai Flora Khas Nusa Tenggara Timur dan  Komodo (Varanus komodoensis) sebagai Fauna Khas Nusa Tenggara Timur.
Cendana Flora Identitas Provinsi Nusa Tenggara Timur

Cendana, atau cendana wangi (Santalum album), merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya. Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan. Kayu cendana wangi kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda. Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.
Komodo Fauna Identitas Provinsi Nusa Tenggara Timur


Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis) adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara dan temasuk generasi naga “Dragon Komodo”. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup. Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.
Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki berat sekitar 70 kilogram, namun komodo yang dipelihara di penangkaran sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Spesimen liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang sebesar 3.13 meter dan berat sekitar 166 kilogram, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Meski komodo tercatat sebagai kadal terbesar yang masih hidup, namun bukan yang terpanjang. Reputasi ini dipegang oleh biawak Papua (Varanus salvadorii). Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gingiva dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina lebih berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar belakang hitam.

FLORA DAN FAUNA KHAS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Flora dan Fauna Khas Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah Ajan Kelicung atau Kayu Hitam Nusa Tenggara ( Diospyros macrophylla)sebagai Flora Khas Nusa Tenggara Barat dan  Rusa Timor (Cervus timorensis) sebagai Fauna Khas Nusa Tenggara Barat.

Ajan Kelicung (Kayu Hitam Nusa Tenggara) Flora Identitas Nusa Tenggara Barat
Ajan kelicung atau kayu hitam nusa tenggara (Diospyros macrophylla). merupakan flora identitas provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pohon ajan kelicung yang diperkirakan berasal dari daerah di Filipina semakin menurun populasinya di alam liar. Pohon ajan kelicung atau kayu hitam nusa tenggara disebut juga dengan kilang, areng-areng, kacang (NTB), mahirangan (Kalimantan), ki kacalung, ki calung (Sunda), dan siamang (Sumatera). Tanaman ini masih berkerabat dekat dengan eboni (Diospyros celebica) dan kesemek. Diskripsi. Ajang kelicung atau kayu hitam merupakan tanaman berkayu dengan tinggi antara 10-46 meter. Batangnya mempunyai diameter hingga 60 cm. Batang bagian bawah kayu hitam biasanya tidak bercabang hingga ketinggian antara 9-30 meter. Kulit batang ajan kelicung (kayu hitam) berwarna coklat hingga merah tua dengan kayu berwarna putih. Ajan kelicung berdaun tunggal berbentuk menjorong yang berujung lancip dengan panjang sekitar 7-35 cm dengan lebar daun 3-19 cm. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan berbau harum. Buah kayu hitam (Diospyros macrophylla) bulat berwarna merah muda hingga jingga kekuningan. Kulit buahnya berbulu halus kemerah-merahan dengan daging buah berwarna putih kekuning-kuningan. Buah ajan kelicung mempunyai rasa yang manis. Dalam buah terdapat biji berwarna coklat.
Pohon ajan kelicung yang dijadikan flora identitas provinsi Nusa Tenggara Barat, selain di Nusa Tenggara di Indonesia juga didapati di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua hingga Filipina. Habitat yang disukai tanaman ini adalah daerah basah dengan curah hujan yang baik sehingga banyak dijumpai hidup di tepi sungai, di tanah datar yang tidak tergenang air, tanah liat, tanah pasir maupun tanah berbatu dalam hutan asli. Tumbuhan yang mampu hidup hingga ketinggian 800 meter dpl dan berbunga musiman pada bulan April hingga Oktober ini dapat diperbanyak dengan biji. Manfaat. Meskipun buah ajan kelicung (Diospyros macrophylla) dapat dikonsumsi tetapi pemanfaatan tanaman ini lebih kepada kayunya yang berkualitas baik. Kegunaan kayu hitam ini sebagai bahan pembuat perabot rumah tangga, bahan jembatan, bahan bangunan, kapal, patung, ukiran, kerajinan tangan hingga finir. Eksploitasi tumbuhan bernilai ekonomis tinggi ini membuat ajan kelicung atau kayu hitam (Diospyros macrophylla) menjadi tumbuhan yang terancam kelestariannya. Semoga dengan ditetapkannya sebagai flora identitas (tumbuhan khas) Nusa Tenggara Barat, ajan kelicung mendapatkan perhatian untuk dilestarikan.
Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Ericales; Famili: Ebenaceae; Genus: Diospyros; Spesies: Diospyros macrophylla.
Nama Indonesia:
Ajan kelicung, Kayu hitam nusa tenggara. Kerabat Dekat: Eboni (kayu hitam sulawesi), kesemek, bisbul.
Rusa Timor Fauna Identitas Nusa Tenggara Barat

Rusa Timor (Cervus timorensis) merupakan salah satu rusa asli Indonesia selain rusa bawean, sambar, dan menjangan. Rusa timor yang mempunyai nama latin Cervus timorensis diperkirakan asli berasal dari Jawa dan Bali, kini ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Rusa Timor  sering juga disebut sebagai rusa jawa. Dalam bahasa Inggris, rusa timor mempunyai beberapa sebutan seperti Javan Rusa, Javan Deer, Rusa, Rusa Deer, dan Timor Deer. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) binatang ini disebut sebagai Cervus timorensis yang mempunyai beberapa nama sinonim seperti Cervus celebensis (Rorig, 1896), Cervus hippelaphus (G.Q. Cuvier , 1825 ), Cervus lepidus (Sundevall, 1846), Cervus moluccensis (Quoy & Gaimard, 1830), Cervus peronii (Cuvier, 1825), Cervus russa(Muller & Schlegel, 1845), Cervus tavistocki (Lydekker, 1900), Cervus timorensis(Blainville, 1822), dan Cervus tunjuc (Horsfield, 1830).
Ciri-ciri Fisik dan Perilaku

Rusa timor (Cervus timorensis) yang ditetapkan menjadi fauna identitas NTB, mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan hingga abu-abu kecoklatan dengan bagian bawah perut dan ekor berwarna putih. Rusa timor dewasa mempunyai panjang badan berkisar antara 195-210 cm dengan tinggi badan mencapai antara 91-110 cm. Rusa timor (Cervus timorensis) mempunyai berat badan antara 103-115 kg walaupun rusa timor yang berada dipenangkaran mampu memiliki bobot sekitar 140 kg. Ukuran rusa timor ini meskipun kalah besar dari sambar (Cervus unicolor) namun dibandingkan dengan rusa jenis lainnya seperti rusa bawean, dan menjangan, ukuran tubuh rusa timor lebih besar. Rusa jantan memiliki tanduk (ranggah) yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan saat umur 8 bulan. Setelah dewasa, tanduk menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing. Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan hewan yang dapat aktif di siang hari (diurnal) maupun di malam hari (nokturnal), tergantung kondisi habitatnya. Rusa timor sebagaimana rusa lainnya termasuk hewan pemamah biak yang menyukai daun-daunan dan berbagai macam buah-buahan Rusa memakan berbagai bagian tumbuhan mulai dari pucuk, daun muda, daun tua, maupun batang muda. Umumnya rusa timor bersifat poligamus yaitu satu penjantan akan mengawini beberapa betina. Rusa betina mempunyai anak setiap tahun dengan sekali musim rata-rata satu ekor anak. Subspesies Rusa Timor. Whitehead (Schroder dalam Nugroho, 1992; Semiadi, 2002) membagi jenis rusa timor (Cervus timorensis) menjadi 8 subspesies (anak jenis), yaitu:
- Cervus timorensis russa (Mul.&Schl., 1844) biasa ditemukan di Pulau Jawa
- Cervus timorensis florensis (Heude, 1896) biasa ditemukan Pulau Lombok
- Cervus timorensis timorensis (Martens, 1936) biasa ditemukan P. Timor, P. Rate
- Cervus timorensis djonga (Bemmel, 1949) biasa ditemukan P. Muna dan P. Buton
- Cervus timorensis molucensis (Q.&G.,1896) biasa ditemukan Kep. Maluku
- Cervus timorensis macassaricus (Heude, 1896) biasa ditemukan P. Sulawesi
- Cervus timorensis renschi (Sody, 1933)
- Cervus timorensis laronesietes (Bemmel, 1949)
Habitat dan Persebaran. Rusa timor diperkirakan berasal dari pulau Jawa dan Bali yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan telah diintroduksi juga ke berbagai negara seperti Australia, Mauritius, Kaledonia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Timor Leste. Habitat rusa timor adalah padang rumput pada daerah beriklim tropis dan subtropis, namun binatang ini mampu beradaptasi di habitat yang berupa hutan, pegunungan, dan rawa-rawa. Rusa yang menjadi fauna identitas Nusa Tenggara Barat ini dapat hidup hingga ketinggian 900 meter dpl. Populasi dan Konservasi. Populasi rusa timor secara keseluruhan diperkirakan sekitar 10.000 hingga 20.000 ekor dewasa. Berdasarkan jumlah populasi dan persebarannya, rusa timor dimasukkan dalam status konservasi “vulnerable” (Rentan) oleh IUCN Red List. Populasi rusa timor terbesar terdapat di TN. Wasur, Papua dengan populasi sekitar 8.000 ekor (1992). Populasi di Jawa justru megalami pengurangan yang sangat besar. Seperti di TN. Baluran sekitar 1.000 ekor (2008). Ancaman utama terhadap rusa timor berasal dari perburuan yang dilakukan oleh manusia untuk mengambil dagingnya. Penurunan populasi juga diakibatkan oleh berkurangnya lahan dan padang penggembalaan (padang rumput) di Taman Nasional yang menjadi habitat rusa timor. Hilangnya padang rumput ini ada yang diakibatkan oleh konversi menjadi lahan pertanian dan pemikiman juga oleh kesalahan pengelolaan seperti penanaman pohon yang yang kemudian merubah padang rumput menjadi hutan semak seperti yang pernah terjadi di TN. Baluran.
Klasifikasi Ilmiah.

Kerajaan: Animalia. Filum: Vertebrata. Sub filum : Chordata. Kelas: Mammalia. Ordo: Artiodactyla. Famili: Cervidae. Genus: Cervus. Spesies: Cervus timorensis. Sinonim: (Lihat artikel). Nama binomial (ilmiah): Cervus timorensis. Nama Indonesia: Rusa timor.

Fauna Identitas Kabupaten dan Kota Tegal


Fauna Identitas Kabupaten dan Kota Tegal 

Fauna Kabupaten Tegal: Burung Jalak suren (Sturnus Contra) atau Asian Pied Starling.

Nama lain : Jalak Suren.
Famili : Sturnidae.
Deskripsi:
Berukuran sedang (24 cm), berwarna hitam dan putih. Dahi, pipi, garis sayap, tunggir dan perut putih. Dada, tenggorokan, dan tubuh bagian atas hitam (coklat pada remaja). Iris abu-abu, kulit tanpa bulu disekitar mata berwarna jingga, paruh merah dengan ujung putih, kaki kuning. Suaranya menyerupai teriakan ribut, sumbang dan riang. Hidup dalam kelompok kecil, menghuni daerah terbuka. Kebanyakan mencari makan di atas tanah, yaitu cacing dan satwa kecil lainnya. Bergabung dalam kelompok ketika beristirahat pada malam hari.
Penyebaran Global :
India, China Barat Daya, Asia Tenggara (kecuali Semenanjung Malaysia), Sumatera, Jawa dan Bali.
Penyebaran Lokal dan Status:
Di Sumatera selatan, Jawa dan Bali sekarang sudah jarang ditemukan di lahan pertanian dataran rendah karena penangkapan yang berlebihan. Catatan di Kalimantan diduga menunjukkan burung peliharaan yang lepas dari sangkarnya.
Referensi:
Mackinnon, John, Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994. LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.

Fauna Kota Tegal: Itik Tegal (Anas platyrhincos) atau Itik Kalung, Itik Tegal, Itik Mojosari, Itik Alabio.
Nama lain : Itik Kalung, Itik Tegal, Itik Mojosari, Itik Alabio
Famili : Anatidae.
Deskripsi:
Berukuran sedang (58cm), bentuk liar dari itik domestik. Jantan: kepala dan leher hijau bercahaya gelap dan khas. Kepala dan dada yang coklat berangan dibatasi oleh semacam kalung putih. Betina: berbintik coklat dengan garis mata gelap dan spekulum biru. Perbedaannya dengan betina: Itik ekor lonjong adalah ekor lebih pendek dan lebih tumpul. Iris coklat, paruh kuning, kaki jingga. Suaranya mirip suara itik domestik.
Penyebaran Global :
Di daerah Holarktik, pada musim dingin bermigrasi ke selatan.
Penyebaran Lokal dan Status:
Pengunjung musim dingin yang jarang ke Kalimantan bagian utara.
Referensi :
Mackinnon, John, Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994. LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.